Anggota Komunitas pendukung pembuatan kaki prostetik
Step4Hope dimulai dengan sebuah keyakinan sederhana. Mobilitas tidak harus bergantung pada penghasilan pribadi. Cerita kami mengikuti masyarakat, keluarga-keluarga, dan para pendukung yang mengubah kepedulian menjadi pergerakan. Setiap kontribusi akan menolong semua orang dibawa kembali pada rutinitas harian mereka, pekerjaan, sekolah, dan/atau kehidupan masyarakat dengan lebih percaya diri.
Viriya bersama Departemen Sosial kabupaten Solo selama acara Step4Hope di Solo, Indonesia
Pak Sugeng bersama relawan Step4Hope selama sesi pengukuran kaki prostetik di Solo, Indonesia
KEMITRAAN BERSAMA MEREKA YANG MENGERTI
Sugeng Siswoyudono (60 tahun) kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan lalu lintas. Kaki kanannya diamputasi di sebelah bawah pergelangan kaki. Di Palembang, Sumatera Selatan lahir seorang lelaki yang menceritakan kisah tragis yang terjadi di tahun 1981. Ia ditabrak oleh sebuah truk di kawasan bypass Mojokerto ketika mengendarai sepeda motor ketika sedang menuju sebuah acara apresiasi seni di sekolahnya.
Sugeng, pada saat itu masih berumur 18 tahun, telah menerima satu kaki prostetik dari orang tuanya, sehingga dia dapat melanjutkan pendidikannya sampai menamatkan SMA. Namun, kaki prostetiknya patah. Pada saat itu, alat semacam itu sangatlah mahal. Oleh karena itu, ketika kaki palsu keduanya juga patah, ia memutuskan untuk membuatnya sendiri.
Berbekal kaki palsu buatan sendiri yang ia rakit setelah lulus SMA, Sugeng berjualan susu sapi dari satu warung ke warung lainnya dan dari rumah ke rumah lainnya. Di sela-sela kesibukan itu, ia juga terus mengasah keterampilannya untuk membuat kaki palsu secara otodidak dan kemampuannya pun perlahan semakin meningkat.
Berkat kegigihannya, pria yang kini menjadi ayah dari empat anak ini memiliki bengkel kaki prostetik—yang didirikan pada tahun 1995—yang memberikan harapan baru bagi para penyandang disabilitas. Bengkel ini memiliki spesialisasi dalam perbaikan dan pembuatan kaki prostetik.
Sumber: detikJatim, Minggu, 19 Juni 2022
KITA - GOTONG ROYONG
Saya menghabiskan masa SMA di Amerika Serikat, namun akar budaya saya adalah budaya Indonesia. Selalu teringat akan masa kecil saya, ketika berada dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia dan khususnya dalam budaya Jawa. Semangat gotong royong sangatlah bermakna bagi saya—menyadari bahwa satu tindakan nyata dapat membawa perubahan bagi banyak orang. Semangat ini mengedepankan kebersamaan ("kita"), bukan sekadar kepentingan pribadi ("aku").